Senin, 05 Juli 2010

Biarkan GOLKAR Memposisikan Seperti Tikus

Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tak masalah Golkar senang berpolitik bergaya tikus. Namun PKB berharap polisi partai lain tetap menjaga etika dalam berpolitik. "Ya biarin saja, Golkar seperti tikus. Yang penting bagi kita sebaiknya memberi pendidikan politik yang baik, bermoral, dan beradab bagi rakyat, bukan politik yang tidak bermoral," ujar Ketua DPP PKB Marwan Jafar kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/7/2010).

Marwan mengingatkan Golkar agar tidak menghalalkan segala cara danlam berpolitik. Sebab rakyat sudah terlanjur memberikan kepercayaan kepada parpol dalam pemilu. "Politik Indonesia, bukan politik machevelian, alias menghalalkan segala cara. Kita harus menjunjung tinggi etika dan fatsoen dalam berpolitik," ingat Marwan.

Menurut Marwan, kemenangan bukan segalanya dalam berpolitik. Politik sebagai realisasi demokrasi untuk kepentingan bersama. "Berpolitik dengan tradisi yang santun dan tidak serakah, dan tidak menang-menangan," tuturnya.

Harus Seperti Tikus, Golkar = Tak Antikorupsi
Tikus identik dengan koruptor. Karena itu pernyataan Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) yang meminta agar politisi partai beringin harus seperti tikus jadi bahan pertanyaan. Apakah Golkar ingin menyebarkan semangat korupsi? "Itu menunjukkan kalau misalnya diartikan konotatif, Golkar tidak antikorupsi. Tikus sama dengan korupsi, semua orang tahu," kata Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Ibrahim Fahmi Badoh.

Fahmi menilai, sudah menjadi hal yang umum bahwa tikus dikonotasikan sebagai koruptor. Dikhawatirkan, perumpamaan tikus ini justru mencerminkan hal lain. "Atau jangan-jangan itu cara mencari-cari cara untuk bermain belakang. Ini berbahaya," tambahnya.

Dikhawatirkan pula, jangan-jangan cara seperti tikus itu dipakai dalam hal mengakses anggaran dan sumber daya publik, terkait dana. "Politik aji mumpung, sehingga cara-cara tikus yang mesti dipakai," kata Fahmi.

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dalam sambutannya di acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Wilayah Jawa-Bali-NTB Partai Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (4/7), menyampaikan bahwa kader-kader Golkar dalam berpolitik harus meniru gaya tikus. Tidak langsung menggigit, tapi mengendus terlebih dahulu. "Kita politisi bekerja keras, main taktis. Jangan kemudian kita dalam permainan itu menggigit terus. Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus, baru gigit," kata Ical.

PAN: Tikus Identik dengan Koruptor
Partai Amanat Nasional (PAN) heran mengapa Golkar memilih mengadopsi pola politik tikus. PAN menilai tikus identik dengan koruptor. "Saya tidak tahu Ical paham atau tidak, tikus indentik dengan koruptor," ujar Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto.

Lebih dari itu Bima menyayangkan sikap Golkar yang tergolong kasar ini. Politisi yang harusnya taktis dalam strategi disamakan dengan tikus. "Kami meyayangkan pemimpin partai besar harusnya lebih memilki pemahaman subtantis terhadap pekerjaan politikus. Profesi politikus sangat taktis kalau kita berpolitik tidak memiliki value kita akan tersesat, ini salah," keluh Bima.

Bima menyarankan agar Golkar tidak mementingkan kepentingan pribadinya dalam berpolitik. Bima menyarankan Golkar meniru lumba-lumba. "Lumba-lumba itu kan tidak individualis, bersih, dan bersahabat tidak seperti tikus," sarannya.

Sebelumnya, dalam acara Rakornis Partai Golkar di Ritz Carlton Kuningan, Minggu (4/7/2010), Ketum Golkar mengingatkan kadernya agar menerapkan pola politik Tikus. Ical memaparkan, tikus seperti Golkar, tidak langsung menggigit tapi mengendus terlebih dahulu.

PD: Politik Tikus Hanya untuk Kepentingan Pribadi
Partai Demokrat (PD) kurang nyaman dengan pola politik Golkar yang meniru tikus. Partai Demokrat menilai tikus selalu menggerogoti. "Kok politik seperti itu saya sangat tidak sependapat. Tikus mengendus lalu pada saatnya menyerang menggerogoti," ujar Ketua DPP PD Didi Irawadi Syamsuddin.

PD khawatir Golkar benar-benar mengadopsi keseluruhan pola hidup tikus. Kalau Golkar terus menggunakan politik menjebak, berarti pola politik Golkar hanya untuk egoisme semata. "Tidak boleh ada jebakan-jebakan itu kami tidak sependapat, itu hanya untuk kepentingan pribadi," keluh Didi.

Didi mengingatkan agar Golkar merubah pola politiknya. Didi menekankan kepada Golkar bahwa untuk membangun negara harus dengan politik santun pro rakyat. "Politik harus mengandung moral tidak boleh seperti tikus. Politik harus membangun bangsa dan negara tidak boleh mengendus-endus," ingatnya.

PDIP Tak Mau Pakai Cara Tikus
Sekjen DPP PDIP Tjahyo Kumolo menegaskan, PDIP tidak mau memakai gaya/cara tikus seperti yang dilakukan Golkar dalam berpolitik. Pasalnya, PDIP tidak menganut politik tikus-tikusan. "Kami pelopor dari tingkat RT/RW pun kami selalu mempelopori kehidupan berdemokrasi," tegas Tjahjo.

Ketua Fraksi PDIP DPR RI ini menyatakan, pihaknya tidak mau berspekulasi terhadap apa yang dipikirkan Ketum Golkar Aburizal Bakrie tentang politik tikus. Tjahjo hanya tak mau partainya berpolitik seperti tikus yang tidak menjalin hubungan baik dengan partai lain.

"Tentu tidak, kami selalu mengarahkan kehiupan bernegara dan berbangsa yang baik. Kami selalu membuka pintu hubungan baik dengan partai manapun," tegas anak buah Megawati Soekarnoputri ini.

PKS: Politik Bukan Gigit Menggigit
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghargai Golkar yang memilih berpolitik bergaya tikus. Namun PKS mengajak Golkar berpolitik yang sehat tanpa mengendus apalagi menggigit. "Kalau itu ingin dibangun menjadi gaya politik Partai Golkar, ini hak politik masing-masing. Bagi kami politik bukan gigit mengigit tapi menebar kebaikan," ujar Wasekjen DPP PKS Mahfudz Siddik kepada wartawan, Senin (5/7/2010).

Mahfudz mengingatkan bahwa tujuan berpolitik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Mahfudz berharap tidak ada parpol yang saling serang. "Kita ajak semua orang melakukan kebaikan, menimalisir keburukan," terang Mahfudz.

Mahfudz tak mau mengomentari seperti apa respon masyarakat terhadap kata tikus yang digunakan sebagai simbol politik Golkar. "Yang tahu tafsirannya, ya Ical sendiri. Biar masyarakat menilai," paparnya.

Agung: Di Kampung Istri Saya, Tikus Dimakan
Menko Kesra Agung Laksono menilai pernyataan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) perihal tikus bukanlah sikap partai. Apa yang disampaikan Ical hanyalah filosofi dan tikus tidak selalu identik dengan pencuri. "Tikus juga dipakai di laboratorium. Di kampung istri saya, Manado, tikus dimakan," kata Agung di Kantor Presiden, Senin (5/7/2010).

Agung menambahkan, pernyataan Ical soal tikus itu adalah pendapat pribadinya. Hal itu bukan merupakan sikap partai. "Itu kan pendapat pribadi Pak Ical selaku Ketum, boleh saja. Tapi bukan sikap partai. Saya paham filosofinya baik kok. Bukan karena Ical bos saya ya, di Golkar," lanjutnya.

Lebih lanjut Agung menegaskan, filosofi tikus itu juga berarti kalau mengkritisi sesuatu jangan sampai sakit hati orangnya. "Berikan saran jangan seperti menggurui. Bila kasih koreksi dengan cara yang santun. Kan dalam politik sopan santun itu perlu dan penting. Ya pokoknya yang haluslah, enggak langsung gigit. Ambil positifnya," pinta Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.

PPP Tuntut Ical Klarifikasi Maksud 'Politisi Tikus'
Partai Persatuan Pembangunan kecewa pada Ketum Golkar Aburizal Bakrie yang mendorong kadernya berpolitik seperti tikus. Tikus dipandang sangat negatif di mata masyarakat dan oleh karenanya Ical harus mengklarifikasi pernyatannya. "Pernyataan itu harus diklarifikasi karena tikus di mata masyarakat sangat buruk dan tidak terpuji," ujar Ketua DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin.

Lukman menilai politik tidak seburuk yang disampaikan Ical. Lukman mengingatkan Ical agar tidak menggunakan 'politik tikus', mengendus untuk kepentingannya sendiri. "Politisi itu harus punya ideologi dan ideologi itu harus diarahkan untuk rakyat banyak bukan untuk kepentingannya sendiri," kecam Lukman.

Lukman mengingatkan agar Golkar memilih hewan lain untuk dicontoh. Tikus tidak layak dijadikan simbol politik. "Tikus itu kan sudah terlanjur dikesankan binatang yang citranya negatif, mungkin lebih baik kalau analognya bukan tikus," saran Lukman. "Hidup itu untuk politik, bukan hidup dari politik. Jangan berorientasi politik untuk kepentingannya sendiri," imbuhnya.

Minggu, 04 Juli 2010

Aneh Bin Ajaib

Kancut...!! sial hari ini yg terjadi pada hidupku. Kenapa demikian...?? Baiklah sedikit kilas balik tentang yg terjadi tadi siang. Siang tadi ada tamu yg lumayan penting, yaitu temenku dari Madinah. Dia temanku ini mo mudik ke kampoengnya (maklum emang udik). Berhubung gag ada transport akhirnya ku putusin carter taxi. Gag lama nunggu akhir`y taxi ku cari datang, setelah perundingan secara alot di sepakati tarif ke terminal (tempat si udik). 10 menit kemudian nyampe di terminal, liat kanan kiri skitar 5 menit akihir`y ku menemukanmu sobatku..dan kita pun berpelukan....!!! Sudah dulu wes kisah`y... telalu garing...

Ada yg berbeda..

Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.

Well, saya lagi jatuh cinta,
dan saya ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.” Hoek. Atau, “Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya… sepeda kumbang.” Dobel hoek.

For me, what I have with you now,
lebih dari analogi yang melibatkan serangga.

Hmmmmm…

Tapi kalau mau dianalogikan, let me get a shot: falling in love with you is like prasmanan tanpa pernah terpuaskan. Semua detail-detail sifat yang kamu tawarkan: quirkiness kamu, ketidaklaziman kamu, kemengertian kamu terhadap keanehanku (begitu pun sebaliknya), seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat aku yang menagih -dan tidak pernah puas-, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up: I. Can’t. Get. Enough. Of. You.

Waduh. Maaf, lagi puasa,
jadi analoginya nyambung ke makanan.

Tuh kan. Maybe I can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovey dopey poem (you know, yang kayak “ketika langit tak berbintang, maka aku..”. Damn, Triple hoek dengan cuh), I definitely can’t write music. I’m a comedy writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.

So, I’m gonna make this ultra-simple,
the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.

And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you completed me.

Thus, when they ask me: why do you love her?
I can safely say: what is not to love?